my clock

Rabu, 16 Oktober 2013



GERIMIS DI MALAM IDUL ADHA
Makassar, 15 Oktober 2013, 12:47
(memoar dalam gema takbir idul adha)
“Aku tak sekuat itu….”
Tangisku pecah dalam keheningan malam yang membuat kesendirianku semakin sepi. Malam ini adalah malam takbiran menjelang idul adha. Aku seorang diri tanpa ada yang menemani. Gema takbir bersahut-sahutan di mana-mana, membuat hatiku menangis sejadi-jadinya. Gema takbir itu membuat hatiku diliputi kesedihan yang mungkin tak berpenghujung.

Aku memang selalu terbayang dengan sebuah momen yang tak akan pernah kulupakan sepanjang sejarah hidupku ketika menjelang idul adha. Momen yang mungkin ketika Allah tak menuntunku dalam ilmu dan kesabaran maka aku akan menjadi orang yang penuh ratapan dan keputus asaan. Aku yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA harus kehilangan orang yang sagat kucintai 2 malam menjelang idul adha. Aku yang saat itu masih sangat membutuhkannya, tapi dia pergi meninggalkanku tanpa pernah kembali lagi. Hingga saat ini, semua itu masih terbayang. Maghrib itu menjadi saksi kesedihanku.
Bapak adalah sosok yang begitu kukagumi, sosoknya yang penyayang dan penyabar, selalu member nasihat dan motivasi, berbagi canda di sela-sela kesibukannya. Aku bahkan tak percaya bahwa di malam menjelang idl adha itu aku harus berpisah dengannya untuk selamanya. Teriakan histeris mama membuatku tersadar bahwa bapak telah tiada. Dunia terasa gelap bagiku. Hingga saat ini pun aku merasakan kesedihan yang luar biasa ketika mama pun telah meninggalkanku saat aku baru-baru menginjakkan kaki di bangku kuliah.
Malam ini aku tak bisa lagi menahan air mata yang terus berjatuhan. Kadang aku ingin berteriak sekeras-kerasnya,
“Kenapa harus aku yang mengalami semua ini ya Allah? Kenapa harus dua-duanya meninggalkanku begitu cepat??”
Perih rasanya merayakan idul adha tanpa orangtua. Kadang aku merasa iri melihat mereka yang kembali ke orang tuanya untuk merayakan hari raya idul adha, berkumpul dan makan bersama. Semua kehangatan itu tinggal menjadi kenangan manis buatku.
Aku tersadar, apa yang Allah tunjukkan padaku hingga hari ini adalah yang terbaik. Rencana Allah selalu indah. Aku yakin Allah sayang kepadaku, pada kakakku yang kini juga sendiri di rumah dan kepada kedua orang tuaku yang telah ada di sisi-Nya. Selalu ada yang indah di balik semua kepedihan. Aku percaya kepada Allah.
Allah telah menunjukkan ilmu yang berharga pada diriku, hingga bisa membuatku bersabar dengan semua cobaan yang Allah berikan. Alhamdulillah sampai hari ini saya bisa merelakan kepergian mereka berdua. Meskipun begitu, aku tetap manusia biasa yang selalu merindukan mereka. Maka teriringlah doa terindahku untuk keduanya yang kusayangi karena Allah. Mereka telah memberi makna yang begitu berharga pada diriku hingga aku bisa seperti ini sekarang. Sehingga kukatakan pada siapapun hari ini yang masih memilki orang tua, sayangi mereka dan lakukan yang terbaik sebelum engkau kehilangan mereka. Karena suatu saat kita akan mersakan betapa sakitnya kehilangan itu.
Momen idul adha pun semakin mengajarkanku arti pengorbanan dan keikhlasan dari nabiullah Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya. Maka aku pun harus bisa menerapkan pengorbana dan keikhlasan itu. Biarlah gerimis malam idul adha ini menjadi saksi kerinduanku kepada kedua orang tuaku, dan keinginanku untuk tetap berbakti dan membuat mereka bangga. Hingga aku bisa mempersembahkan mahkota di surga untuk keduanya karena hafalanku.
Ya Allah ampunilah dosa kedua orang tuaku
Sayangi mereka di sisi-Mu
Semoga Engkau member mereka tempat yang terindah di sisi-Mu saat ini
Izinkan aku tetap menjadi anak yang berbakti dan bisa membanggakan mereka
Hingga Engkau mengizinkan kami untuk berkumpul di Surga-Mu
Bersama-sama bertemu dengan-Mu ya Allah
Salam rindu dan bakti  dariku, anakmu yang mencintai kalian karena Allah

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More