Makassar, 1
Februari 2014
SAAT
ALLAH MEMANGGILMU, AKU PUN TERSADAR
Saat
mentari pagi menyapa, embun turun menyelimuti bumi. Saat kubuka handphonku pagi
ini untuk melihat info-info yang masuk, terutama info tarbiyahku. Tak lama
setelah itu, beberapa SMS masuk ke dalam inboxku. Salah satu di anataranya
adalah info depsos FSUA bahwa ada seorang ummahat dari mamuju yang sedang
dirawat di RS Ibnu Sina dan membutuhkan donor darah A. Kemudian masuk sebuah
SMS yang sangat mengejutkan, yakni sebuah berita duka.
Isi SMSnya adalah :
|
Innalillahi wa inna ilaihi
rojiun. Telah wafat ummu aisyah (sofyanti) istri Ust. Saiful Bahri Wasekjen
Wahdah Islamiyah, pagi tadi di RB wihdatul ummah Antang, Jenazah
disemayamkan di Pao-pao.
Allahummaghfirlaha warhamha
wa’afiha wa’fua’anha.
9:19
|
Ini adalah SMS atau tepatnya berita duka kedua pekan
ini yang masuk ke dalam inboxku. Yang pertama adalah berita duka datang dari
ustadz Umar Shaleh. Lalu SMS yang masuk hari ini datang dari ummu Aisyah.
Mereka adalah asatidzah yang selama ini mengemban
dakwah dan menyebarkan kebaikan di muka bumi ini. Ustadz umar yang pernah
dikirim ke Depok untuk berdakwah, beliau rela meninggalkan kampung halaman demi
berdakwah di jalan Allah.
Kisah Ummu Aisyah kami dapatkan dari penuturan
murabbiyah kami yang mengisi tarbiyah kami siang ini, Ummu Shafwan. Beliau
adalah teman dari ummu yang juga kuliah di Ma’had ‘Aly Al-Wahdah STIBA
Makassar. Beliau rahimahullah termasuk mahasiswa STIBA yang cerdas, nilainya
tak pernah di bawah mumtaz, selalu di atas mumtaz. Masya Allah. Beliau sosok
yang sabar dengan penyakit beliau, yakni penyakit liver. Stelah beberapa lama
belia mengidap penyakit itu, nikmat yang diberikan Allah pun ditarik sedikit
demi sedikit. Ummu berkisah bahwa ketika ia dan sekitar 20 teman-temannya yang
lain datang menjenguk beliau, hanya beberapa saja yang beliau kenal. Selama
sakit, ia dijaga oleh anak dan suaminya serta banyak teman-teman yang datang
menunggui beliau. Salah seorang anaknya adalah penghafal Al-Qur’an baru-baru
ini, dan anak ini salah satu yang senantiasa berada di sisi beliau. Bahkan
beberapa sebelum Allah memanggil beliau menghadap Allah, sempat kondisi beliau
drop dan orang-orang menyangka bahwa saat itu Allah telah memanggil beliau. Anak
dan suami beliau bergantian dan tak lepas mentalqin beliau (menuntun
mengucapkan kalimat ‘laa ilaha illallah’). Tapi ternyata hari itu beliau masih
diberi kesempatan oleh Allah untuk berada di dunia ini.
Hari sabtu inilah yang menjadi saksi di mana Allah
mencabut satu lagi ruh seorang mujahidah, ruh seorang murabbiyah, ruh seorang
yang insya Allah senantiasa berpegang teguh pada tali agama Allah. Aku bukanlah
orang yang mengenal beliau, bahkan wajahnya pun aku tak tahu. Tapi aku bisa
merasakan betapa sedihnya dan betapa aku merasa sangat kehilangan. Masya Allah.
Beginilah ketika orang baik yang meninggal, banyak orang yang sedih dan
mendoakan beliau. Beliau dishalatkan di Masjid Darul Hikmah DPP Wahdah
Islamiyah Antang.
Hari ini aku mendapatkan pelajaran dan kembali
tersadar bahwa Allah akan memanggil hamba-Nya pada saat yang Dia telah
tetapkan. Kita butuh mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Allah dan membawa
bekal yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Banyaklah kita
meminta diberi akhir yang baik (khusnul khatimah), karena apa yang ada pada
diri kita hari ini tidak menjamin bahwa kita akan berakhir dengan baik.
Peristiwa berpulangnya dua orang berilmu ini ke
hadapan Allah membuatku tersadar bahwa kehidupan ini sementara. Jangan sampai
selama ini aku tersibukkan dengan dunia dan lupa bahwa aka nada kehidupan abadi
dan perjumpaan dengan Allah. Ya Allah…ampuni keduanya ya Allah dan jadikan kami
hamba yang banyak bersyukur dan lebih banyak lagi melakukan ketaatan kepada-Mu
sehingga kami pantas mendapatkan surge-Mu dan berjumpa dengan-Mu ya Allah.
Aamiin. Cukuplah kematian itu menjadi pengingat yang luar biasa untuk kehidupan
kita di dunia ini.
Written
by : Inda Indrawati




0 komentar:
Posting Komentar